AJI Ambon Minta Pelaksana Apeksi Tolak Kehadiran Kabiro Pers Istana

Ambon – Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Ambon Abdul Karim Angkotasan meminta pelaksana kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) di Ambon agar tidak mengizinkan Kepala Biro Pers Istana Kepresidenan Albiner Sitompul menginjakan kakinya di Maluku.

Sebab Albert Sitompul diduga melakukan tindak pelecehan, intimidasi dan kekerasan terhadap Wita Ayodya Putri, jurnalis perempuan dari sebuah media online. AJI Indonesia bahkan berniat melaporkan Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Istana Kepresidenan, itu ke polisi.

“Kami dan seluruh komponen masyarakat di Ambon menyambut baik kehadiran bapak Presiden. Tapi siapapun tidak akan menerima dilecahkan. Kami meminta pihak pelaksana tidak mengizinkan Albert Sitompul berada di Ambon, atau di lokasi kegiatan,” pinta Angkotasan.

Angkotasan juga mendesak pelakasan kegiatan Rakernas Apeksi di Ambon tidak membatasi kerja-kerja jurnalis dalam meliput kegiatan tersebut dan tidak berperilaku seperti Kepala Biro Pers Istana Kepresidenan Albiner Sitompul.

“Para jurnalis harus diberi akses seluas-luasnya kepada narasumber termasuk jika mereka akan mengajukan pertanyaan kepada Bapak Presden, siapapun tidak berhak mengintimidasi jurnalis, atau menghalang-halangi kerja jurnalis,” imbu Angkotasan.

Sebagaimana diketahui, saat Presiden Jokowidodo melakukan kunjungan kerja ke Yogjakarta, terjadi tindakan pelecahan kepada salah satu wartawan media online.

Saat itu, korban ditugaskan kantornya meminta tanggapan Presiden Joko Widodo terkait aksi bakar diri seorang buruh di Jakarta pada hari buruh internasional (Mayday) 1 Mei lalu. Wawancara langsung dengan Presiden hanya memungkinkan dengan doorstop, atau menyetop Presiden sebelum meninggalkan lokasi.

Pada saat itu posisi korban berada di bagian belakang kerumunan para awak media yang tengah mewawancarai Presiden tentang isu lain. Paspampres kemudian memberikan akses agar korban bisa lebih dekat dengan Presiden sehingga dapat leluasa wawancara.

“Saat korban baru sempat berkata “Pak” (belum direspon Presiden), tiba-tiba dari belakang (belakang sebelah samping kanan korban) seorang laki-laki sontak mengatakan, “Mau tanya apa?”. Korban menjawab, “Mau tanya soal kasus buruh di Jakarta kemarin”. Laki-laki itu menjawab; “Ngapain kok tanya-tanya soal buruh, tanya aja soal program ini,” bentak laki-laki itu,” kata Ketua AJI Yogyakarta, Hendrawan Setiawan, Selasa, 5 Mei 2015.

Tak hanya berkata kasar, kata Hendrawan, pria ini juga menjewer kuping korban sebanyak dua kali sambil mengancam korban agar tidak bertanya soal isu lain. Pelaku bahkan memegang pinggang korban dan mengancam akan mencubit jika korban bertanya soal isu buruh. “Pinggang korban dipegang hingga wawancara doorstop selesai,” ujar Hendrawan menambahkan.

Saat itu korban hanya bisa diam dan merasa tertekan dengan perlakuan lelaki berkemeja putih tersebut. Korban yang telah menggunakan ID Card pers itu merasa shock saat dijewer di depan umum. Korban juga merasa dilecehkan dan diintimidasi dengan sikap pelaku tersebut.

Sikap Kabiro Pers, Media dan Informasi Istana Kepresidenan tersebut telah melanggar pasal 4 ayat 1, 2, dan 3 Undang Undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers. Pasal tersebut melindungi kerja jurnalis dari penyensoran, pembreidelan atau pelanggaran penyiaran.

“Dalam ketentuan pidana UU pers pasal 18 disebutkan Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana dengan penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (limaratus juta rupiah).

AJI menilai, perbuatan pelaku adalah salah satu bentuk ancaman terhadap kebebasan pers.

Perilaku Albiner Sitompul melecehkan profesi dan pribadi korban sebagai pekerja perempuan. Pelaku, ujar Tommy, sudah melanggar hak korban untuk bebas dari teror, intimidasi dan mendapatkan rasa aman. (*)

Posted in Berita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *